Rabu, 12 April 2023

#Resume pematerian Pra-KKN: Pentingnya Empati

     Empati merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh seseorang karena dengan memiliki empati seseorang dapat memahami dan merasakan , kebutuhan dan keinginan masyarakat yang dilayani. 

Tips ketika kelapangan saat kkn, gunakan setengah waktu yang digunakan ( 10 hari ) untuk bermain atau berbaur dengan masyarakat. Dengan begitu masyrakat akan memberikan informasi se akurat mungkin tanpa kita minta atau mempermudahkan dalam mendapatkan informasi. Terkadang jika kita terlalu superior sebagai mahasiswa yang mau menolong masyarakat, maka akhirnya masyaakat akan berbicara isu formal saja melainkan tidak curhat atau menceritakan permasalahan yang dirasakan pribadi (tidak formal). 

Untuk dapat diterima kepada masyarakat dan supaya masyarakat tidak membenci kita, maka hal yang perlu dilakukan ialah membuktikan kehadiran kita hendak menghadirkann manfaat. Karena dengan menghadirkan manfaat setidaknya meskipun kita dibenci , meraka masih dapat menerima manfaatnya. Meskipun apa yang kita lakukan bukanlah memberikan yang sangat besar.

Dalam berinteraksi dengan seseorang yang baru, satu kunci yang dapat kita lakukan ialah memberikan agar meraka mengetahui diri kita. Dengan begitu mereka akan mulai membuka diri untuk berinteraksi dan kemudian memberikan empati kepada kia. 

Menjadi peka dan empati terhadap masyarakat serta lingkungan merupakan akar dari sifat peka. Akan tetapi di dalam kampus umumnya sedikit membunuh kepekaan kita. Karena ketika peka maka kita akan merespon terhadap kondisi dan harus breaksi. Sedangkan dikampus kita sudah terjadwal dan harus melakukannya meskipun itu merupakan sesuatu yang tidak kita sukai. Hal tersebut berkebalikan dengan empati, dimana apa yang kita rasakan itulah yang kita kerjakan. Maka dari itu, lengkapilah ilmu kita dengan memperbanyak dilapangan untuk berempati terhadap lingkungan.

Dalam berinteraksi upayakan lakukan dua hal yang utama, yaitu persiapkan permintaan maaf dan nikmati kebersamaanya. 

Ketika datang kesebuah desa, alangkah baiknya kita tau kondisi atau kegiatan yang ada di sekitar mereka. Jangan sampai ketika datang ke mereka kita malah langsung mengatur mereka sesuai apa yang kita mau. Sehebat dan sepintar apapun kita, masih terdapat variabel yang belum kita bisa selesaikan suatu permasalahan. Semua hal tersebut dapat kita solved dengan mempunyai  rasa empati terhadap orang lain.


Kamis, 09 Februari 2023

What will happen to the world if there is no sanitation revolution


Definition of Sanitation and Current and Past Conditions

Sanitation from the past until now is something that is important to pay attention to. Currently many countries are expected to be able to provide adequate basic sanitation. This is also stated in SDGs number 6, namely so that everyone can have adequate and equitable facilities by 2030. Apart from that, many organizations are busy campaigning for the importance of sanitation, such as overcoming the global sanitation crisis. even in 2010 the UN also recognized that sanitation and water are human rights.

Sanitation conditions in several countries are currently still relatively poor, especially in low-income countries. Whereas in developed countries, generally have adequate facilities and it has become the norm to keep the environment clean. so that the sanitation conditions are fairly good. However, keeping in mind how things used to be in the past, present sanitary conditions continue to evolve for the better

In early civilizations (before 500 BC), sanitation was an aspect that was noticed. Evidence from archaeological finds from the Indus valley in northern India, dated to around 2000 BC, suggests the presence of bathrooms and drainage systems within houses and drains that were located lower than street level. The same thing was also found in various kingdoms at that time, especially in the ancient Egyptian kingdom. However, the Middle Ages said that health problems were not related to environmental conditions, including sanitation, but took a spiritual approach. This culminated in the 18th century where industrial conditions were quite rapid which resulted in worsening environmental conditions and in the end various health problems occurred.



Relationship between Sanitation and Health Revolution

The sanitation revolution played a big role in the health revolution. Although at first there were many misconceptions related to health, such as the notion that disease was a curse and as the British in 1840 also believed that disease was caused by poverty. However, this mistake was realized and finally acknowledged that there is a relationship between health problems and the environment/sanitation. Some of the pioneers include Edwin Chadwick, John Snow, William Budd, and John Simon in England; Ignaz Semmelweis in Australia; and Lemuel Shattuck in Boston, who argued that there was a link between illness and death and unsanitary conditions and advocated sanitation reform. Which then attracted attention to sanitation issues to be resolved immediately and eventually reformed and evolved for the better. So what if this doesn't happen until now?


What If There Was No Sanitation Revolution

Because sanitation is highly correlated with health, if there is no revolution in better sanitation, it is certain that public health will be threatened and the death rate from disease will increase. In addition, the transmission of infectious diseases is also difficult to overcome because a dirty environment is a nest of the disease itself, such as the incidence of a typhus outbreak that attracted national attention in England. According to the results of research conducted by Helgertz and Önnerfors on mortality in Sweden, a sanitation reform only reduced infant mortality by about six percent between 1875 and 1930. However, they also state that these reforms led to an estimated nine percent reduction in deaths from waterborne diseases and a five percent reduction in overall mortality. You can also see the pattern of deaths that occurred in Philadelphia and New York from 1889 to 1910 with an average of 43.1 typhus deaths per 100,000 people. Building on a paper by Ewald (1991, p. 106), he argued that improving water quality would likely reduce mortality from 'severe pathogens' such as 'V. classic cholera, salmonella typhi and shigella dysenteriae', and that increased water quantity is more likely to reduce mortality than more 'benign' ones. pathogens such as 'el tor V. cholerae, shigella sonnei and enterotoxigenic E. coli'.

Hygiene products are also unlikely to be developed. Given the fact that hygiene products are growing as the availability of hygiene is growing. Which means that diseases such as diarrhea and other personal hygiene diseases are on the rise and cannot be prevented. Because it has been proven that there is a relationship between a decrease in infant mortality and an increase in soap and detergent production across geography in the same time period, across time in the same geography from the 19th century to the 20th century.

However, sanitation is the most important thing to pay attention to when talking about health. Preventing the impacts that occur due to sanitation should be the first thing that needs to be done instead of solving the problems that occur afterwards. So if there is no revolution in sanitation until now, it is very likely that the death rate will increase and may even lead to extinction because the main root cause of death due to the disease itself is not addressed.














Bibliography:

academic.oup.com. (2019, Oktober 15). Water and Filth: Reevaluating the First Era of Sanitary . Diambil kembali dari academic.oup.com: https://academic.oup.com/cid/article/69/Supplement_5/S377/5587098

Allison E. Aiello, P. M. (2008, Desember). Hidden heroes of the health revolution .

Helgert, B. H. (2019, Juni 10). Urban sanitation and the decline of mortality. Diambil kembali dari tandfonline.com: https://www.tandfonline.com/loi/rhof20

Pillian, E. M. (2020, September 9). What Would the World Be If There Is No Sanitary Revolution. Diambil kembali dari interscientia: https://interscientia.org/2020/09/09/what-would-the-world-be-if-there-is-no-sanitary-revolution/



By : Raihan, M.B

Minggu, 05 Februari 2023

Proses Pembentukan Tanah


 Tanah merupakan material yang terdiri dari butiran/agregat mineral-mineral pada yang tidak sementasi satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk di sertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut. Sifat-sifat fisik dari tanah bergantung dari beberapa faktor, seperti ukuran, bentuk, komposisi kimia dari sebuah butiran. 

Butiran-butiran mineral yang membentuk bagian dari tanah merupakan hasil dari pelapukan bebatuan. Bebatuan dapat dibagi menjadi tiga tipe dasar, diantaranya 

  1.  Batuan Beku (Igneus rock)

Terbentuk dari membekunya magma cair yang keluar dari perut bumi melalui rekahan-rekahan kulit bumi ataupun melalui gunung berapi dimana akhirnya mendingin dan membatu. Magma yang mendingin dan menjadi batu sebelum sampai kelur dari permukaan bumi disebut batuan beku dalam atau plutonic rock.

  1. batuan sedimen ( sedimentary rock) 

Terbentuk akibat pengendapan berbagai bahan yang terbawa oleh air, udara ataupun es dan membentuk sedimen serta mengalami kompaksi,litifikasi.

  1. Bebatuan Metamorf (metamorfphic rock). 

Bebatuan yang mengalami transmoorfasi ataupun perubahan bentuk karena proses pengangkatan ataupun erosi pada tanah dan menjadi bebatuan yang baru.


    Adapun iklus kejaidan beberapa tipe batuan tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. 

Gambar 1. Siklus Batuan 

Sumber : Mekanika Tanah 1 Jilid 1  BRAJA M.DAS




Pelapukan merupakan suatu proses terurainya batuan menjadi kecil akibat peroses mekais dan kimia. Dilihat dari segi prosesnya, pelapukan dibagi menjadi dua , yaitu pelapukan mekanis dan pelapukan secara kimia.

Pada pelapukan mekanis bebatuan besar akan pecah menjadi bagian yang kecil-kecil tanpa melibatkan perubahan dalam komposisi secara kimia dari mineral bebatuan tersebut.  Pelapukan mekanis dapat disebabkan oleh memuai dan menyusutnya batuan akibat perubahan panas dan dingin yang secara terus menerus dan pada akhirnya dapat menyebabkan hancurnya bebatuan. Apabila terdapat retakan halus dan terdapat air yang meresap kedalam bebatuan disertau temperatur udara yang turun dibawah titik beku, dapat menyebabkan memuainya volume air menjadi es. Hal tersebut juga dapat menyebabkan bebatuan pecah. Selain itu faktor fakor lain yang dapat menyebabkan pecahnya bebatuann ialah, aingin, air yang mengali di sungai, gelombang air laut serta es gletser. 

Sedangkan proses pelapukan kimia, bebatuan di ubah menjadi mineral-mineral baru melalui proses reaksi kimia. Seperti halnya air dan karbon dioksida di udara membentuk asam asam karbon yang kemudian bereaksi dengan mineral-mineral batuan dan membentuk mineral baru di sertai garam-garam terlarut.


Jadi proses pelapukan dapat mengubah bebatuan yang besar menjadi pecahan-pecahan dengan ukuran lebih kecil bahkan menjadi butiran-butiran yangg merupakan bagian dari tanah




Ditulis Oleh : Raihan, M.B

Minggu, 22 Januari 2023

HAPPINESS IS THE WAY, NOT A GOAL

 

   A lot of people are looking for happiness. What do you think about happiness?. All of you have meaning about it because everyone has a way of being happy. Happiness is not only always about achieving a goal but also about small things that make you happy. There are many things to make you feel happy,  such as traveling, meeting up with family or friends, shopping, playing a game, eating chocolate, and so on. It's actually pretty simple, right?. Conversely, when someone sets too high standards it will prove extremely challenging to find happiness, therefore, they will feel quite miserable for not having reached their goal.


    The researchers have found that people who feel happy will have positive thinking, more productive and healthy. Hence, happiness can be the key driver to success. Moreover, happiness can spread to others. When you meet someone who has a problem or unpleasant feeling then you smile or make a joke to them, it will help to make their feeling  better. So, let’s try to make our surroundings happy.


    It’s okay to have a bad day, but it doesn't mean you can not be happy “don’t cry over spilt milk”.Even though the world has complicated problems, let’s be happy and spread your happiness.


By: Raihan, M.B


Kamis, 19 Januari 2023

Vektor Penyakit dan Istilah yang berkaitan dengannya

  1. Pengertian Vektor Penyakit

Menurut Timmreck (2004) , vektor merupakan semua makhluk hidup kecuali manusia yang membawa penyakit ( carrier ) yang menyebarkan dan menjalani proses penularan penyakit, seperti lalat, kutu, nyamuk dll.

Sedangkan reservoir menurut Soeharsono ( 2005) , ialah hewan vertebrata yang merupakan sumber pembawa agen, yang pada akhirnya penyakitt tersebut dapat terjadi secara lestari atau berkesinambungan tanpa hewan tersebut menunjukkan gejala klinik atau gejala penyakit bersifat ringan.

Sedangkan menurut International Health Regulation ( IHR) 2005 , Vektor adalah serangga atau hewan lain yang biasanya membawa kuman penyakit yang merupakan suatu resiko bagi kesehatan masyarakat. Reservoir adalah hewan, tumbuhan atau benda dimana bibit penyakit biasanya hidup.

Jadi, Vektor penyakit merupakan insecta yang membawa dan menyebarkan penyakit atau menjadi sumber penularan penyakit, sedangkan dia tidak menjadi sakit karenanya. Contohnya, lalat, kutu, nyamuk, kecoa dan sejenis rodentia lainnya. Vektor ini tidak sama dengan vehicle ( air, makanan, udara, dll) atau bisa disebut bahwa vektor merupakan makhluk hidup (insecta).

Penularan penyakit bisa melalui beberapa cara, diantaranya secara mekanik dan biologis. Penyebaran secara meknik, agen dapat berasal dari tinja, urine maupun sputum penderita yang hanya melekat pada bagian tubuh vektor dan kemudian dipindahkan pada makanan/minuman ketika menghinggap di makanan tersebut. Contohnya ; lalat yang merupakan vektor mekanik penyakit diare. Sedangkan secara biologis, agen masuk ke dalam tubuh vektor melalui gigitan maupun melalui keturunannya. Dimana ketika berada di dalam tubuh vektor, agen berkembang biak ataupun mengalami perubahan morfologi sehingga menjadi bentuk infektif melalui giigitan, atau cara lain untuk pindah ke pejamu potensial. Contohnya ; Culex quinquefasciatus merupakan vektor penyakit kaki gajah (filaria).


  1. Istilah yang berkaitan dengan vektor penyakit

  1. Host/Hospes : Makhluk hidup termasuk didalamnya organisme yang menjadi tempat hidup parasit.

  2. Parasit :  Merupakan organisme yang hidup pada atau didalam organisme lainnya, dengan mengambil makanan pada host tersebut.

  3. Hospes difinitif : Parasit mencapai kematangan seksual pada tubuhnya.

  4. Hospes sementara : Parasit hanya tinggal sebagian dari siklus tubuhnya.

  5. Patogen : Organisme penyebab penyakit ( umumnya berukuran kecil ).

  6. Pest : Vertebrata/invertebrata yang menimbulkan gangguan pada manusia, walapun kadang tidak bertindak sebagai vektor , tetapi menimbulkan ketidak nyamanan pada kehidupan manusia.

  7. Rodentia : Hewan pengerat seperti tikus.



Ditulis oleh : Raihan, M.B 

Rabu, 18 Januari 2023

Prinsip Umum Hidrolika Saluran Terbuka


A.    Perbedaan saluran tertutup dan terbuka

 

Pada saluran tertutup tekanan hidrostatis di ukur dari pusat pipa sampai dengan permukaan air pada piezometris . Sedangkan pada saluran terbuka tekanan hidrostatis di ukur dari dalam saluran sampai permukaan air. Dengan demikian, aliran saluran terbuka mempunyai permukaan yang berhubungan dengan atmosfer , tetapi pada saluran tertutup tika mempunyai hubungan langsung dengan tekanan atmosfer. Contoh saluran terbuka ialah saluran irigasi , selokan, dll.

 

Gambar 1. Saluran Terbuka ( a,b ) dan tertutup (c)

Sumber : https://images.app.goo.gl/5v3uV6P4MtEYDknW6


 

B.    Penggolongan Aliran

 

Jika di tinjau berdasarkan perubahan aliran terhadap waktu, maka terdapat 2 aliran yaitu ;

1.     Aliran Tetap (Stedy Flow) ; Yaitu bila debit aliran tidak berubah selama jangka waktu sebaliknya.

2.     Aliran Tak Tetap (Unsteady Flow); dimana debit aliran yang terjadi selalu berubah.



Gambar 2. Aliran tetap ( kiri ), aliran tidak tetap ( kanan )

 

Sedangkan ditinjau berdasarkan perubahan aliran terhadap ruang, maka terdapat 2 jenis aliran , diantaranya :

1.     Aliran Seragam (Uniform flow) , yaitu kondisi dimana komponen aliran tidak berubah terhadap ruang/jarak. Contoh aliran di saluran dimana tidak ada penyempitan atau pelebaran yang ekstrim.

 

2.     Aliran Berubah (Varied flow), yitu kondisi dimana komponen aliran berubah terhadap ruang/jarak. Contohnya saluran yang terdapat penyempitan/pelebaran yang ekstrim. Jenis aliran ini dibagi lagi menjadi Gradually varied flow ( aliran berubah dikit demi sedikit) dan Rapitly varied flow ( aliran berubah mendadak ). Kedua tipe ini sering terjadi pada saluran terbuka, seperti di tunjukkan pada gambar di bawah ini.

 

 

 

Gambar 3. Bentuk Aliran seragam dan Aliran Berubah

 



Oleh : Raihan, M.B 

 

 


Senin, 16 Januari 2023

Mengenal Presipitasi dan Tipe Hujan



  1. Presipitasi


Presipitasi merupakan turunnya air dari atmosfer bumi, yang bisa berupa hujan, salju, kabut, embun, maupun hujan es. Karena indonesia merupkan suatu wilayah yang sering mengalami hujan, maka hujanlah yang dianggap sebagai presipitasi. 

Air hujan yang menyerap ke dalam tanah sehingga akhirnya menjadi air tanah di sebut perkolasi. Sedangkan jika tetes air tidak sampai permukaan atau menguap kembali menjadi awan disebut sebagai virga. dan hujan yang turun mengenai permukaan air sungai secara langsung maka biasanya  disebut sebagai intersepsi saluran ( channel interception ).

  1. Tipe hujan


Hujan terjadi akibat udara basah yang naik ke atmosfer dan mengalami pendinginan sehingga terjadi proses kondensasi. Adapun naiknya hujan ke atas dapat terjadi secara konvektif , siklonik/siklonal dan oragrofik. 


  1. Hujan Konvektif ( Hujan Zenital )

Merupakan proses hujan yang terjadi karena itensitas yang sangat tinggi, dimana massa udara terangkat ke atas disebabkab adanya perbedaan panas pada lapisan udara dan permukaan tanah atau bisa di akibatkan oleh pemanasan lahan. Umumnya terjadi di daerah yang relatif luas dan bergerak dengan pergerakan angin.

Gambar 1. Hujan Konvektif

Sumber : https://www.kompas.com/skola/read/2020/04/01/180000069/jenis-jenis-hujan-orografis-konveksi-dan-frontal?page=all 


  1. Hujan Siklonal ( Hujan Frontal )

Hujan siklonal terjadi karena udara lembab panas terangkat ke atas karena udara yang lebih dingin dan lebih rapat. Penyebaran hujan ini cenderung terbatas dan dalam waktu singkat serta  di pengaruhi oleh landai pertemuan antara udara panas dan dingin. 

Gambar 2. Hujan Siklonal / Hujan Frontal 

Sumber : https://www.nesabamedia.com/jenis-jenis-hujan/ 



  1. Hujan Oragrofik

Hujan Oragrofik disebabkan masa udara terangkat ke atas oleh angin karena adanya gunung atau pegunungan , sehingga udara yang melintas naik akan mengalami pendinginan. 

Gambar 3. Hujan Oragrofik 

Sumber : https://www.siswapedia.com/curah-hujan/ 


10 lubang hitam diangkasa yang diketahui manusia

  1.NGC 4889                                                  (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/NGC_4889 ) Lokasi konstelasi : com...